Daku tidak menyangka perjalanan membeli oleh-oleh di Bandung ini bisa membuatku mengalami trauma seperti ini. Pagi itu pagi yang biasa-biasa saja, cuaca sungguh cerah di Bandung dan udara terasa segar. Daku melangkahkan kaki naik angkutan kota menuju dago untuk beli kartika sari sebagai oleh-oleh ketika kembali ke Jakarta.
Dan sampailah daku ke hadalan toko Kartika Sari yang sedang direnovasi. Bingung mencari pintu masuk, akhirnya daku melangkahkan kaki ke dalam toko itu. Tampak segerombolan orang2x berdesak-desakan di depan counter roti untuk memesan roti *ya iyalah*. Lalu daku mencoba mengantri dengan sabar tidak ikut orang lain yg berteriak-teriak “mbak!” “roti daging satu!” “sateeee!” *yg terakhir bunyi tukang sate yg lewat di luar* menunggu satu per satu orang2x itu selesai untuk maju ke depan.
Ketika tiba giliranku, menyeruduklah beberapa ibu-ibu berseragam olahraga ke depan. Dengan masuk melalui celah sempit, ibu itu berhasil mendorongku keluar barisan dan memasukkan beberapa ibu-ibu lain. Huff, dengan sabar saya menunggu giliran selanjutnya dan akhirnya bisa mendapatkan pesanan daku.
Setelah itu, membayar. Nah, kali ini saya bertemu dengan ibu-ibu yang luar biasa. Daku mengantri, dia masuk dan berdiri di depanku. Lalu dia mendorong daku ke belakang untuk memasukkan temannya. Daku pindah ke barisan lain. Beberapa saat dia memotong di depan daku lagi. Daku pindah barisan lagi. Dannn, untuk terakhir kalinya dia memblokir daku tidak mau bergerak sama sekali padahal daku sudah tinggal mbayar. Sedangkan si beliau ini masih memesan dengan jumlah yg luar biasa banyak! Err, bukan banyak sih tp gonta-ganti pilihan. “Ada yg ijo ndak?” “Ada yg rasa keju manis ndak?” “Ini apaan sih?”.
Setelah setengah jam ada di sana, akhirnya sukses jg keluar dari toko laknat itu. Setengah jam! Padahal daku cuma mau beli molen 3 biji! Kejamnya huhuhu! Beneran deh, kayaknya Kartika Sari kudu ngeganti penempatan kasir chaos ala mereka. Dan semenjak itu, daku yakin dengan pasti bahwa kalau ada yg bilang “moral anak muda sekarang lebih parah dari orang tua kalian dulu” itu ndak berlaku untuk seluruh orang tua. La wong para ibu-ibu ngantri aja ndak bisa
~
Hola pertamaaaaa
Oleh: ansella on Juli 7, 2008
at 2:02 pm
Ries, kenapa tante itu ga disun(dul) aja ?
*saran sesat*
Oleh: ansella on Juli 7, 2008
at 2:04 pm
*tadinya gak mau hetrix tapi tergoda juga*
HETRIX
*ketawa ala musuhnya zabogar dan voltus*
HUAHAHAHAHA
Oleh: ansella on Juli 7, 2008
at 2:05 pm
sepele ries. karena ibu-ibu itu pernah muda…
Oleh: cK on Juli 7, 2008
at 7:04 pm
nerusin cK ** dan merasa masi muda **
Anyway,
Hanya di Indonesia bisa begituuu… du du du
Oleh: Eru on Juli 8, 2008
at 12:37 am
XD itulah ibu2 di Indo gw pernah pas diserobot ibu2 di counter pasar swalayan~ BT banget~
Oleh: gerrymon on Juli 8, 2008
at 1:35 am
kakakakakkaka… kenapa enggak di bentak aja..
Oleh: ulan on Juli 8, 2008
at 2:33 am
mustinya dilawan ala american futbol ajah…
kan kamu palingan juga ga sakit… pan ibu2 mah empuk..
*ditimpuk molen* nyammm enak…
Oleh: carra on Juli 8, 2008
at 2:38 am
@sella
waduh yg lagi liburan
hati2x serangan balik yaa
@cK
*komen pas lg tepar ya chik*
wehehehe, dengan kata lain moralny pernah merosot jg ya
@eru
du du du
@gerrymon
(tp gak semua ibu2x kayak gitu)
stuju ger
@ulan
gak tega daku hik hik
@carra
minta ditimpuk ama mandha aja mbak
Oleh: Ries on Juli 8, 2008
at 7:54 am
ahhhhhhhhhhhhhh
riesssssss
ga bilang siehh
coba belinya bareng aku
pasti dapett dehhh…n ga perlu nunggu setengah jam……yakin!!!!!
Oleh: nairasmile on Juli 10, 2008
at 2:35 am
itu mendadak ke bandung nai, mendadak beli kartika sari jg jd susah koordinasinya
klo gitu next time panggil nai deh
Oleh: Ries on Juli 10, 2008
at 4:50 am
Bener, bener kata Chika…
Salam ah ti urang bandung,
Oleh: Aki Herry on Juli 20, 2008
at 3:28 am
@aki herry
salam balik ah
Oleh: Ries on Juli 23, 2008
at 1:11 pm
wah, segituny y dulu
wah, ibu2…
Oleh: sima on Januari 12, 2009
at 9:29 am
@sima
iy tuh ibu2x
Oleh: Ries on Januari 12, 2009
at 11:29 am